Hanya dengan Melihat ke Bawah Saya Merasa Bersyukur

  • Share
Hanya dengan Melihat ke Bawah Saya Merasa Bersyukur
Ilustrasi bersyukur. (Gambar: Mindful.org)

Motivasi – Kebutuhan manusia tak ada habisnya, infinity. Pun dengan kemauan dan keinginannya, infinity. Secara alamiah, manusia tak pernah puas. Ibarat kata, andai diberi satu gunung emas, pasti manusia menginginkan satu gunung emas lainnya.

Berkaca-kaca pada kehidupan sosial yang ada pada saat ini, gejala demands dan needs yang infinity itu jelas ada.

Suatu waktu, Bentala ngobrol iseng dengan seorang teman yang pernah bekerja di perusahaan bidang otomotif. Di suatu sesi obrolan kami terdapat selipan yang bernuansa regretful. Oh my.

Teman saya itu berkisah gajinya di perusahaan bidang otomotif mencapai Rp 8 hingga 9 juta rupiah termasuk lembur. Angka yang cukup banyak bagi lulusan SMK, banyak sarjana fresh graduate tak bergaji sedemikian besar. Yakin.

Dengan gaji itu, dia hampir tiap hari makan di McDonald’s, kemudian kredit motor idaman, dan membeli apa yang disuka. Kebetulan saat itu dia belum menikah dan gajinya hanya untuk dirinya sendiri.

Selepas menjadi buruh, ia baru merasakan betapa hedonnya kehidupan dia saat itu. Dan, yang paling menyesalkan, tidak aset yang tersisa melainkan motor itu. Padahal, seorang bujang bergaji Rp 8 juta masih dapat menabung. Hal ini membuat saya berpikir, apakah ini yang membuat buruh selalu menuntut kenaikan gaji?

Tentu pandangan itu hanyalah pandangan parsial yang tak dibenarkan, tapi setidaknya begitu ocehan masyarakat apabila mengomentari demo buruh yang menuntut kenaikan gaji.

Komentar yang paling banyak saya tangkap adalah mengenai syukur. Netizen yang tak ada salahnya selalu menggunakan komparasi gajinya dan gaji buruh yang berdemo.

Lihat juga opini mahasiswi President University ini tentang aplikasi ojek online: baca

Kurang lebih kalimatnya seperti ini, “Gue aja gaji 2 juta udah bersyukur, alhamdulillah apa-apa cukup kok. Masa ini nuntut kenaikan terus padahal gajinya udah gede.”

Bla, bla, bla. Begitulah. Buruh yang hedon mendapat kritik keras. Mereka yang selalu mengincar ponsel terbaru dan motor yang sering disebut sebagai ‘pelet Jepang’.

Urusan money management sih personal, ya. Tak bisa diungkit-ungkit. Yang paling penting, sebenarnya berapapun penghasilan kita, tanpa syukur semua seolah tak ada artinya, tak ada cukupnya.

Kata orang bijak, agar bersyukur sering-seringlah melihat ke bawah. Dan agar termotivasi, lihatlah ke atas. Orang-orang yang hebat, orang-orang yang telah berhasil. Rumus itu jangan terbalik, nanti kamu tersesat.

Bentala merasa penghasilan masih jauh dari kata cukup apabila dibandingkan dengan teman bentala yang kini menjadi buruh di perusahaan otomotif Jepang.

Tapi, melihat masih ada guru honorer bergaji hanya Rp 200 ribu per bulan, Bentala merasa sangat beruntung.

Penulis: Bentala Lisani

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *