PUK Duga Kuat PT Posmi Steel Berangus Serikat Buruh

FSPMI
Ilustrasi anggota FSPMI. (Foto: fspmi.or.id)

KABUPATEN BEKASI, Cikarang Barat – Pemberangusan serikat pekerja (union busting) diduga kuat terjadi di PT Posmi Steel Indonesia di Kawasan MM 2100, Cikarang Barat. Demikian disampaikan oleh Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) PT Posmi Steel Indonesia, Bambang Sugiatma, Minggu, 15 Desember 2019.

Bambang menceritakan sebanyak 44 anggota PUK perusahaan itu di-PHK tujuh di antaranya pengurus dengan jabatan ketua, sekretaris sampai kepala bidang. Sehingga, hanya dua pengurus yang tersisa.

Belum sampai di situ, menurut pengakuan Ketua PUK PT Posmi, Bambang Sugianta, kantor sekretariat pun dikunci oleh pihak perusahaan sejak Jumat, 13 Desember 2019 malam. Saat mereka hendak mengabsen pada mesin fingerprint, data mereka pun sudah tidak terdeteksi.

“Hari Jumat kita berunding dari jam 13.30 sampai 19.30-an. Di situ dengan alasan efisiensi perusahaan akan mem-PHK 44 orang anggota serikat, termasuk tujuh orang pengurus, termasuk saya ketua, sekretaris dan lainnya,” ucap Bambang saat dihubungi, Minggu (13/12/2019).

Padahal, pada rapat yang berlangsung alot itu belum ada kesepakatan apapun antara manajemen dengan perwakilan serikat pekerja. Semestinya, kata Bambang, mesti ada perundingan lanjutan sesuai mekanisme dan UU yang berlaku.

“Dalam perundingan kita sampaikan kenapa anggota serikat yang jadi wakil para pekerja mengawal kebijakan perusahaan juga ikut terefisiensi? Kita berorganisasi diatur UU, secara hukum kita legal. FSPMI sudah delapan tahun berdiri di PT Posmi,” ujar Bambang yang telah bekerja di perusahaan tersebut sejak 1996.

“Kalau simbol organisasi di-PHK, itu melanggar UU Nomor 21. Dalam notulensi alasan perusahaan tak bermaksud union busting karena melihat pengurus serikat dari segi karyawan. Kita sampaikan benar kita karyawan, tapi kita kan pengurus serikat. Kita pengurus punya kewajiban bela tenaga kerja dan mengawal kebijakan perusahaan,” katanya.

video sekretariat PUK PT Posmi steel yang sudah terkunci, 13 Desember 2019. (Sumber: Bambang)

Katanya efisiensi itu sudah kali ketiga, pada efisiensi pertama dan kedua dengan total pekerja yang ter-PHK mencapai 67 orang. Kedua efisiensi itu berlangsung dengan bipartit, misalkan mengurangi jumlah pekerja pada bidang produksi karena memang kelebihan sumber daya. Tiap efisiensi, selalu ada karyawan pada tataran manajerial ikut ter-PHK. Pun pada efisiensi 13 Desember 2019, ada dua orang manajer yang di-PHK.

“Kita minta evaluasi dari efisiensi pertama dan kedua, dari segi dampak perusahaan dan segi labor cost. Itu tak pernah kita dapatkan, hanya penjelasan lisan saja, tidak pakai data. Harapan kami Desember efisiensi terakhir perusahaan tidak dapat menjamin, Januari, kata mereka, tidak menutup kemungkinan ada efisiensi lagi,” katanya.

“Ini jelas-jelas union busting oleh PT Posmi. Di notulensi jelas-jelas belum ada kesepakatan dan PHK dilakukan sepihak, juga terhadap simbol organisasi. Alasan mereka kebijakan top management,” demikian Bambang.

PUK PT Posmi Steel Indonesia akan menyiapkan langkah-langkah lanjutan dan telah berkonsultasi dengan Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (PC SP AMK) FSPMI Bekasi.

(sti)

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *