Belum Semua Pelajar SMAN 1 Sukatani Terapkan Lisa

  • Share
Belum Semua Pelajar SMAN 1 Sukatani Terapkan Lisa 1
Spanduk Program Lisa yang terpasang di salah satu sudut SMAN 1 Sukatani, Kamis, 12 Desember 2019. Sejumlah spanduk serupa juga terpasang di tempat lainnya. (Foto: Kelompok 3)

Berita ini adalah hasil karya peserta Workshop Jurnalistik Urbanjabar.com yang telah disunting dan disesuaikan dengan redaksional

KABUPATEN BEKASI, Sukatani – Semenjak ada Lisa, pelajar SMAN 1 Sukatani makin sadar kebersihan. Kendati demikian, masih saja ada sampah terlihat di lingkungan sekolah itu. Dugaan kuat, belum semua siswa yang menerapkan program itu.

Lisa, bukanlah nama siswi cantik yang diidam-idamkan para siswa. Lisa merupakan akronim dari ‘Lihat Sampah Ambil’, program kebersihan di SMAN 1 Sukatani.

Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), Pak Rangga Ari Ghozali, berpendapat program dapat menggugah kepedulian para pelajar terhadap alam dan lingkungan. Tapi, menurutnya program ini belum berjalan maksimal.

“Belum terlalu (berjalan, Red). Karena buktinya bukan dia yang melihat langsung orangnya, jadi sampahnya tidak langsung diambil. Saya melihat karena masih banyak sampah yang tidak pada tempatnya,” ucap Pak Rangga, Kamis, 12 Desember 2019.

Ia sendiri menakar persentase penerapan Lisa terhadap dirinya sendiri, yakni sekitar 40 sampai 60 persen.

“Ketika program Lisa diterapkan, yaitu kita terapkan pada diri kita sendiri, baru mengingatkan orang lain,” katanya. Ia berharap Program Lisa menjadi program yang baik dan lebih ditingkatkan lagi ke depannya.

“Ketika kita sopan dengan alam, maka alam juga akan sopan kepada kita. Dengan itu, program Lisa pasti akan terlaksana dengan baik,” demikian Pak Rangga.

Belum Semua Pelajar SMAN 1 Sukatani Terapkan Lisa 2
Guru PJOK, Pak Rangga Ari Ghozali, saat diwawancarai, Kamis, 12 Desember 2019. (Foto: Kelompok 3)

Lisa di Mata Ketua MPK

Ketua Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) SMAN 1 Sukatani, Achmad Husein, juga menganggap program ini baik, terutama untuk mendisiplinkan para siswa.

Akan tetapi, ia juga mengakui Lisa belum berjalan secara maksimal karena masih saja ada siswa yang belum menerapkannya.

Ia sendiri mengaku sudah menerapkan Lisa secara pribadi. Begitu melihat sampah tercecer, ia langsung mengambilnya, lalu memasukkan ke tempat sampah.

“Semoga siswa-siswi SMAN 1 Sukatani ini bisa lebih menerapkan program Lisa. Karena dari program Lisa tersebut kita bisa terlihat bersih, damai, dan sejuk,” katanya mengakhiri.

Penulis: Kelompok 3
  1. Alfiaturohmah
  2. Davina Nafisa
  3. Siti Winda Astuti
  4. M. Fitra Nur Setiawan
  5. Ahmad Rifki Zidanu

 


Mengapa foto di atas terpilih?

Komposisinya oke, tapi sayang, rasio fotonya kurang cocok untuk sebuah berita. Oleh karena itu redaksi memutuskan untuk merasio ulang foto di atas.

Kalau tak salah, rasio yang kalian gunakan adalah 2:1 atau 1:1, persis rasio untuk gambar di Instagram. Semestinya, atur rasio di kamera menjadi 4:3, 3:2, atau 16:9. Paling banyak dipakai rasio 3:2 dan 16:9.

Untuk gambar utama bisa dibilang keren dan tepat secara komposisi. Sebuah spanduk program yang dimaksud di berita terpampang, sementara sejumlah pelajar melewatinya.

Pun pada foto narasumber, sudah cukup oke. Tampak natural dan tak diuat-buat.

Komentar atas Naskah di Kelompok 3

Meski jadi pemenang, tetapi bukan berarti sempurna dong, ya. Keunggulan Kelompok 3 dibandingkan kelompok lain adalah panjang naskah dan komposisi foto. Kalau dari segi struktur penulisan, paragraf, kata, masih amburadul. 

Naskah yang panjang saya pandang sebagai sebuah niat dan kesungguhan dalam meracik naskah berita. Hanya saja, panjangnya naskah ini menjadi liar dan tak terkontrol. Para penulis sepertinya bingung menyusun sekian banyak kalimat itu. 

Sebagai contoh, peletakan pernyataan narasumber dibuat menyilang. Artinya, bergantian.

Padahal tak demikian. Kalau ada dua narasumber, pernyataannya harus digunakan secara bergantian. Misalkan Pak Rangga, selesaikan dulu bagian Pak Rangga, baru beralih ke Achmad Husein.

Penyilangan narasumber membuat pembaca bingung dan tulisan menjadi seperti yang disebut pada awal: amburadul.

Tulisan kalian menemukan suatu fakta menarik: program kebersihan tidak berjalan maksimal. Wah, itu keren dong.

Bayangkan tulisan kalian dibaca oleh kepala sekolah, pasti ada reaksi yang ditimbulkan. Misalkan, Pak Kepsek lebih tegas soal kebersihan.

Tulisan ini bisa memacu teman-teman lain agar lebih bersih dan menerapkan program Lisa.

Suatu tulisan yang dapat menggerakkan orang, lalu merubah keadaan itu keren gak sih? Keren dong. Itulah gunanya jurnalisme.

Tingkatkan prestasi!

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *