Tari Saman Meriahkan Grand Launching Perguruan Water Dragon Wushu

Tari Saman Meriahkan Grand Launching Perguruan Water Dragon Wushu
Manager Oprasional Water Dragon Wushu Dio Alief Aryana, mengambil tumpeng dalam acara Louncing Perguruan Water Dragon Wushu pada Minggu, 15 Desember 2019. (Foto: istimewa)
DEWAWEB

JAKARTA – Perguruan Water Dragon Whusu di Tamini Square Jakarta Timur resmi di buka. Acara yang di helat pada Minggu, 15 Desember 2019, dihadiri Manager Oprasional Water Dragon Wushu Dio Alief Aryana, Ketua Himpunan Masyarakat Anti Narkoba Republik Indonesia (HIMBARA RI) Windu Priyono, Ketua Yayasan Al-Marzan Ustaz Zaeni Mustofa, Perwakilan Mall Tamini Square dan perwakilan manajemen Petak Petok Fried Chicken.

Acara turut dimeriahkan pertunjukan Barongsai Kids dan tarian. Yang menyita perhatian para tamu undangan salah satunya Tarian Saman. Tarian tersebut di tampilkan belasan siswa dari SMIT (Sekolah Menengah Isalam Terpadu) Al Marjan Bekasi.

Tari Saman merupakan kesenian yang berasal dari Suku Gayo di Aceh, tapi tarian ini tepatnya dikembangkan oleh seorang ulama dari Gayo, bernama Syekh Saman.
Awalnya, Tari Saman dikembangkan sebagai media penyebaran agama Islam, yang juga digunakan untuk menyampaikan pesan. Tarian ini juga mencerminkan pendidikan, kegamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Tari Saman resmi mendapat pengakuan internasional dari pihak UNESCO sebagai warisan budaya dunia takbenda pada 24 November 2011. Ketua Yayasan Al Marjan, Ustaz Zaini Mustafa, mengapresiasi kehadiran perguruan Water Dragon Wushu sebagai wadah untuk mengembangkan minat dan bakat siswa.

Dia menilai anak cerdas itu bukan hanya bagus dalam perolehan nilai akademik saja. Anak yang gemar olahraga pun, misalnya bisa cerdas.

“Al Marjan yang menerapkan prinsip pendidikan berbasis fitrah dan minat tentunya sangat senang dengan hadirnya Perguruan Water Dragon Wushu dan program pelatihan untuk sekolah,” kata Zaini.

Zaini menjelaskan, SMIT merupakan gabungan SMP dan SMA Islam Terpadu di mana siswa menjalani kegiatan belajar selama empat tahun, dua tahun pada masing-masing tingkatannya.

Pria yang juga aktif sebagai anggota Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini juga menyatakan setiap tahunnya, Yayasan Al marjan yang didirikan salah satunya oleh pakar parenting, Elly Risman ini terus mengusahakan terwujudnya program yang baru baik secara fisik maupun nonfisik/sistem.

Tidak hanya itu, Masih kata Zaini, menyangkut kemajuan sistem berbasis teknologi, Al Marjan juga akan menyediakan absensi canggih menggunakan sistem face recognition agar kehadiran anak-anak di sekolah juga terpantau orangtua.

“Ada juga rencana menanam salah satu software di gawai (tab) anak-anak (kakatu school) yang memungkinkan mereka terhindar dari mengakses situs-situs terkait pornografi dan hal-hal negatif lainnya,” ujarnya.

Yayasan Al Marjan menaungi beberapa lembaga pendidikan antara lain day care, TKIT, SDIT dan SMIT (gabungan SMP dan SMAIT). Dia mengatakan yayasan ini terdepan dalam upaya memanusiakan manusia dengan mengedepankan prinsip pendidikan berbasis fitrah juga pendidikan berbasis minat.

“Al Marjan ingin tetap mempersembahkan program-program terbaik yang mendidik. Selain itu, juga dapat memberi contoh kepada sekolah lain sebagai sekolah yang memberi figur sentral dalam berdakwah,” pungkasnya.

(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here