Covid-19 Menjadi ATHG bagi Indonesia

covid-19
Ilustrasi virus korona. (Foto: kemkes.go.id)
DEWAWEB

Opini – *Dikutip dari Wikipedia Indonesia, coronavirus atau virus korona adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales. Kelompok virus ini yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia. Virus korona juga dapat menjangkit manusia. Virus ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan seperti pilek, sesak napas, demam ringan, dan batuk.

Coronavirus pertama muncul di Kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Penyebaran virus ini sangat cepat dan telah menyebar ke hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. Virus korona telah ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai virus pandemik. Pandemik ini merupakan penyakit atau virus yang menyebar dalam skala besar hingga ranah internasional. Selain menyebar dalam skalanya virus dikatakan pandemik ini harus juga menular.

Virus korona ini disebabkan oleh infeksi coronavirus yang menginfeksi saluran pernapasan. Gejala awal virus ini seperti flu pada umumnya, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Selanjutnya gejala ini dapat berangsur membaik atau memburuk. Penderita dengan gejala berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak sampai berdarah, nyeri dada, dan sesak napas. Jika gejala tersebut kian memburuk diharapkan untuk isolasi mandiri dan menghubungi tenaga medis.

Virus korona dapat menginfeksi siapa saja, namun virus ini akan berdampak atau memiliki efek yang lebih berbahaya terutama terhadap orang lanjut usia, ibu hamil, perokok berat, orang yang memiliki sakit bawaan seperti asma, pneumia, kanker, atau penyakit tertentu lainnya.

Orang yang tidak memiliki gejala ataupun terlihat sehat belum tentu terbebas dari infeksi virus corona. Orang tersebut dapat menjadi carrier atau pembawa virus untuk kemudian menularkan kepada orang yang lebih rentan. Tenaga medis yang menjadi garda terdepan sangat rentan untuk tertular virus korona. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi virus tersebut karena berkontak langsung dengan pasien yang terinfeksi. Oleh karena itu tenaga medis perlu menggunakan alat pelindung diri (APD).

Kepala World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan agar kita bersama sama berjuang melawan virus corona. Karena virus ini telah merenggut lebih dari 43 ribu jiwa dan menginfeksi lebih dari 860 ribu orang. Dari kasus tersebut, Amerika Serikat mencatatkan pertambahan kasus yang pesat hingga menembus 1 juta penderita covid-19 pada Selasa, 28 Mei 2020, waktu setempat. Menurut Johns Hopkins University, total penderita di Amerika ini setara dengan sepertiga total penderita di dunia. Selain itu, Italia dan Spanyol menjadi negara penyumbang kematian terbesar di Eropa. Virus corona berdampak pada kehidupan ekonomi, sosial, dan politik. Virus ini dapat melumpuhkan aspek aspek tersebut dalam kurun waktu yang singkat.

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan dua warga negara Indonesia pertama yang terjangkit virus korona pada tanggal 2 Maret 2020. Indonesia telah termasuk ke dalam negara yang terjangkit virus korona sejak terkonfirmasinya kasus positif pertama dan terus bertambah setiap harinya. Dalam kurun waktu satu setengah bulan, jumlah kasus yang terkonfirmasi positif di Indonesia mencapai 11.192 kasus per 3 Mei 2020. Bertambah 395 kasus dari hari sebelumnya. Angka yang terus melonjak setiap harinya membuat pemerintah terus berupaya dalam menekan jumlah penyebaran virus.

Virus korona yang terus menyebar di Indonesia membuat khawatir seluruh warga Indonesia, pemerintah juga terus menerapkan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi penyebaran virus korona. Karena virus ini sangat berdampak bagi kelangsungan hidup negara bahkan sampai melumpuhkan beberapa aspek di negara itu sendiri. Tanpa kita sadari, virus korona ini telah menjadi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan bagi negara Indonesia. Walaupun negara Indonesia sudah lama merdeka, itu tidak dapat membebaskan bangsa Indonesia dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG).

Dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan, adanya invasi Belanda, berbagai pemberontakan, pengkhianatan, serta penyelewengan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah menjadi ATHG bangsa Indonesia, bahkan setelah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pun tidak bisa terhindar dari ATHG. Salah satunya peristiwa G-30-S PKI yang merupakan ancaman internal bangsa Indonesia itu sendiriyang dapat menimbulkan perpecahan dan hilangnya persatuan dan kesatuan.

Sejarah memberikan pelajaran berharga kepada kita sebagai bangsa bahwa ATHG tidak hanya berasal dari eksternal melainkan juga dari internal negara Indonesia itu sendiri. Tidak selamanya ancaman tersebut harus berbentuk militer atau gencatan senjata. ATHG dapat berupa ideologi atau cara negara tersebut berdaulat dan segimana mestinya mempertahankan kedaulatan Indonesia. Pada saat ini pendemi virus korona menjadi perhatian bagi seluruh dunia. Virus korona merupakan salah satu contoh ATHG bagi seluruh negara di belahan dunia. Indonesia merupakan salah satu contoh dari sebagian besar negara berkembang yang terus berjuang untuk kelangsungan hidup warga negaranya.

Dalam menghadapi pandemi virus korona, beberapa negara termasuk Indonesia  telah melakukan berbagai kebijakan dan upaya menghadapi ATHG ini. Indonesia tidak menerapkan kebijakan lockdown seperti negara lainnya. Karena pertimbangan dari aspek ekonomi apabila harus me-lockdown suatu negara merupakan masalah yang sangat signifikan. Karena apabila suatu negara tersebut di-lockdown otomatis pergerakan ekonomi pun terhenti dan pemerintah harus memadai kebutuhan setiap warga negaranya.

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menjelaskan “Lockdown artinya membatasi betul-betul satu wilayah atau daerah dan itu memiliki implikasi ekonomi, sosial, keamanan. Maka itu kebijakan belum bisa diambil saat ini. Kembali social distancing yang paling penting.”

Pembatasan sosial berskala besar (PSSB) merupakan langkah yang diambil Indonesia dalam mengantisipasi penyebaran virus korona. Langkah preventif ini termasuk social distancing dan physical distancing guna mengatasi ATHG di indonesia. Langkah ini bertujuan untuk membatasi interaksi sosial, membatasi keramaian guna memutus rantai persebaran virus korona.

Pembatasan sosial berskala besar ini diterapkan pemerintah sejak tanggal 31 Maret 2020. Dilansir dari okezone.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menekan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dalam rangka percepatan penanganan coronavirus disease (Covid-19) pada 31 Maret 2020. PSBB ini merupakan strategi pemerintah untuk membatasi kegiatan diluar rumah seperti aktivitas sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial budaya dan operasional transportasi umum.

Penerapan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB tidak berlaku di semua daerah di Indonesia. Pemerintah membedakan daerah menjadi beberapa zona. Zona merahyaitu daerah yang memiliki tingkat penularan yang relatif tinggi seperti ibukota Jakarta dan sekitarnya. Daerah tersebut akan diutamakan untuk memberlakukan sistem pembatasan sosial berskala besar. Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, merilis data terbaru kota-kota di seluruh Indonesia yang sudah menetapkan PSBB.

“Cluster epidemiologi untuk Jabodetabek mulai dari Kabupaten Bekasi Kota Bekasi DKI sendiri Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, Tangerang Selatan, Tangerang Kabupaten dan Kota Tangerang. Kemudian Provinsi Sumatera Barat, Bandung Raya, Kota Bandung dan sekitarnya, Kota Pekanbaru, Kota Makassar, Tegal,” kata Yurianto di Graha BNPB Jakarta, Sabtu (18/4/2020).

Namun setelah pemerintah memberlakukan PSBB dalam menangani ancaman pandemik virus korona ini, kurangnya rasa peduli dan waspada di masyarakat menjadi tantangan dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Masyarakat masih tidak patuh dan merasa tak acuh dalam penerapan pembatasan sosial berskala besar ini. Masih banyaknya masyarakat yang berkumpul di tempat umum tanpa alasan yang jelas, pergi mudik dari tempat zona merah yang dapat meningkatkan resiko penularan.

Kurangnya rasa peduli masyarakat dalam menghadapi pandemic ini membuat pembatasan sosial berskala besar masih belum efektif dan ketat dalam pelaksanaanya. Masih tinggnya jumlah pelanggar PSBB yang menjadi kekhawatiran semua pihak. Menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahardiansyah menyatakanada dilema dalam pelaksanaan PSBB. Terutama terkait sanksi yang bisa dijatuhkan. Selama ini, penegakan hukum PSBB tidak berjalan karena tidak jelas payung hukumnya. PSBB tidak akan berjalan dengan efektif apabila belum adanya kedisiplinan dari penegak hukum tanpa adanya sanksi riil yang tegas.

Selain pembatasan sosial berskala besar, upaya pemerintah dalam menangani ancaman pandemi virus korona ini dengan mengeluarkan kebijakan bahwa masyarakat harus mengenakan masker setiap pergi keluar rumah. Masyarakat masih dihimbau untuk tetap berada dirumah, namun apabila terdapat keperluan mendesak dan harus keluar rumah masyarakat diwajibkan untuk memakai masker. Kebijakan ini juga atas saran dari Kementrian Kesehatan sebagai salah satu cara mencegah penyebaran virus korona. Bagi masyarakat yang tidak mengenakan masker, diberikan sanksi karena telah membahayakan keselamatan orang di sekitarnya.

Permintaan kebutuhan masker yang meningkat membuat masker menjadi barang yang langka untuk dicari. Selain itu juga handsanitizer dan berbagai antiseptic juga turut langka dalam masa pandemic virus korona ini. Banyaknya oknum oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengambil keuntungan dalam situasi ini. Mereka menimbun barang tersebut untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) memperingatkan para pelaku usaha yang memanfaatkan situasi ini sebagai ajang mencari keuntungan sebanyak banyaknya.

BPKN mengingatkan pelaku usaha untuk memperhatikan Pasal 107 UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pasal ini berisi ancaman sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun, dan/atau pidana denda maksimal 50 miliar rupiah bagi pelaku usaha yang melanggar larangan menyimpan barang kebutuhan pokok atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, atau hambatan lalu lintas perdagangan barang. Selain itu, pemerintah meghimbau untuk menggunakan masker kain kepada masyarakat yang dapat dicuci berkali kali. Keefektifan masker kain tersebut sebesar 70 persen dalam pencegahan virus korona. Masyarakat masih harus tetap menerapkan physical distancing. Masker bedah dan N-95 lebih diprioritaskan untuk tenaga medis.

Dalam masa pembatasan sosial berskala besar ini, pemerintah juga mensosialisasikan pencegahan dan pengobatan terhadap penanganan virus ckrona. Dalam mendiagnosis telah terinfeksinya virus korona pemerintah melakukan beberapa tahapan dalam pemeriksaannya. Dilansir dari Alodokter, guna memastikan diagnosis COVID-19, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut; Rapid test sebagai penyaring, Swab test atau tes PCR (polymerase chain reaction) untuk mendeteksi virus korona di dalam dahak, CT scan atau Rontgen dada untuk mendeteksi infiltrat atau cairan di paru-paru. Hasil rapid test COVID-19 positif kemungkinan besar menunjukkan bahwa Anda memang sudah terinfeksi virus korona, namun bisa juga berarti Anda terinfeksi kuman atau virus yang lain. Sebaliknya, hasil rapid test COVID-19 negatif belum tentu menandakan bahwa Anda mutlak terbebas dari virus korona.

Baca juga Opini lainnya

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi virus pandemic yang telah menjadi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan terhadap keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Virus ini sudah melumpuhkan berbagai sector terutama ekonomi. Kebijakan pemerintah untuk menerapkan work from home membuat banyak sekali lapangan pekerjaan yang ditutup. Bahkan sampai mem-PHK para pekerjanya. Tentunya hal ini menjadi dampak akan virus pandemic ini sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakatnya. Kesulitan dalam ekonomi membuat tingkat criminal meningkat pada masa pembatasan sosial berskala besar. Pihak berwajib perlu bekerja lebih extra dalam menyikapi hambatan tersebut.

Kita sebagai warga negara yang memiliki peran yang sangat penting dalam kelancaran menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Kita harus bekerja sama berkontribusi dalam setiap kebijakan pemerintah untuk menangani virus pandemic ini agar cepat berangsur membaik dan kita dapat melaksanakan aktivitas sebagaimana mestinya. Pemerintah sudah berupaya sekarang giliran kita sebagai warga negara yang baik untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri melainkan mementingkan keselamatan kita semua.

Instagram urbanjabar.com (follow)

Banyaknya para relawan yang membantu para tenaga medis ataupun menggalang dana untuk memberikan kepada masyarakat yang kesusahan dalam pandemic ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk membantu dengan sesama. Nilai sosial yang tinggi dan rasa kecintaan kepada tanah air yang menjadi alasan untuk berbuat baik terhadap sesama. Selain itu juga, untuk tetap berada dirumah dan menerapkan physical distancing juga merupakan bentuk kontribusi kita sebagai warga negara yang baik.

Kita sebagai mahasiswa, terutama calon pendidik harus bisa memberikan contoh yang baik yang dapat ditiru agar mencerminkan sikap warga negara yang baik pula. Dalam melihat apapun peristiwa yang terjadi sekarang ini, mulai dari terbatasnya kontak sosial dengan orang banyak tidak membuat kita menjadi diam saja dan tidak melakukan hal hal positif dan baik. Di tengah keterbatasan ini kita harus terus berupaya untuk melakukan perbuatan positif sekecil mungkin. Teruslah bersyukur untuk tetap berada dirumah dan dikelilingi oleh keluarga yang kita sayangi. Stay safe, stay healthy semuanya.


*Shafanissa Aulia Putri

Mahasiswi PGSD

Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

 

Shafanissa Aulia Putri.

 


Daftar Pustaka

 ATHG. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://gurusekolah.co.id/pengertian-athg/

 Hilmatussa’diah, H. (2020). Mengenal Makna Bela Negara di Masa Pandemi Virus Corona (Know the Meaning of Defending the Country in the Corona Virus Pandemic Period). Available at SSRN 3575683.

 HEADLINE: Pelanggar PSBB Tinggi, Masih Banyak Warga dan Perusahaan yang Meremehkan Bahaya Corona?. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://www.liputan6.com/news/read/4230064/headline-pelanggar-psbb-tinggi-masih-banyak-warga-dan-perusahaan-yang-meremehkan-bahaya-corona

 Koronavirus. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Koronavirus

 Oktami Putri, A. (2020). AKTUALISASI NYATA BELA NEGARA SAAT PANDEMI COVID-19 (Real Actualization of the State Defense When the COVID-19 Pandemy). Available at SSRN 3580876.

 Pandemi. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi

 Pernyataan Lengkap Jokowi soal Evaluasi PSBB hingga Distribusi Bansos. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://news.detik.com/berita/d-5001249/pernyataan-lengkap-jokowi-soal-evaluasi-psbb-hingga-distribusi-bansos

 Salsabila, G. M. (2020). Bela Negara Generasi Muda dalam Menghadapi Wabah Virus COVID-19 (Defending the Youth Generation in Dealing with the COVID-19 Virus Outbreak). Available at SSRN 3581353.

 Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 3 Mei 2020. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/info-corona-virus/situasi-terkini-perkembangan-coronavirus-disease-covid-19-3-mei-2020/#.XrEpvRMzZ-V

 Ubah Himbauan, Kini Pemerintah Dorong Masyarakat Gunakan Masker Saat Keluar Rumah dan Tidak Sakit. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://news.trubus.id/baca/36173/ubah-himbauan-kini-pemerintah-dorong-masyarakat-gunakan-masker-saat-keluar-rumah-dan-tidak-sakit

 Virus Corona (COVID-19). Diakses pada 5 mei 2020, dari https://www.alodokter.com/virus-corona.

 Virus corona: Gejala Covid-19, penyebaran, penanganan, pengobatan dan penyembuhan. Diakses pada 5 mei 2020, dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51232803.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here