Direktur Said Aqil Siradj Menjelaskan Radikalisme Bermasalah Pada Paham Agamanya

Direktur Said Aqil Siradj Menjelaskan Radikalisme Bermasalah Pada Paham Agamanya
DEWAWEB

JAKARTA, URBANJABAR – Direktur Eksekutif Said Aqil Siradj (SAS) Institute M Imdadun Rahmat sepakat bahwa radikalisme dan intoleransi ada di setiap agama. Tidak hanya identik dengan Islam, tapi bahwa fakta dan sejarah ada beberapa kelompok terorisme seringkali berjubah Islam.

“Kelompok ini menghalalkan segala bentuk kekerasan, fanatik militan. Fanatisme militan ini bukan membela islam, tapi kepentingan pribadi. Sesama kelompok jihad saling membunuh kok,” terang Imdadun Rahmat dalam webinar “Radikalisme di BUMN “Fakta atau Ilusi,” yang diadakan oleh LSPI, Jum’at (25/09).

Imdadun menjelaskan bahwa Kelompok radikal bermasalah bukan karena kesholehannya tapi karena praktek dan pemahaman agamanya.

“Radikalisme dan intoleransi tidak hanya di Islam itu sudah pasti. Semua agama punya sejarah dan punya akar teologi yang melahirkan tindakan-tindakan terorisme, intoleransi, dll,” jelas Imdadun Rahmat.

Senada dengan itu, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, ada di benak masyarakat tidak selesai soal wawasan kebangsaannya. Tapi tidak banyak. Kalau itu disebut radikal, bisa saja masuk kategori radikalisme. tapi definisi radikal itu sedikit harus diperbarui.

“Pada November 2019 saya melakukan survei nasional, 86% menyatakan agama dan negara penting tak perlu dibenturkan. 9% menyatakan agama jauh lebih penting dan seharusnya jadi dasar negara,” lanjut Adi.

Menurut Adi, terlalu sederhana kalau melihat radikalisme hanya dari celana cingkrang dan jenggot atau good looking. Radikalisme itu bukan fisik, bukan bentuk tapi menyangkut pada sikap pola dan tingkah laku yang bertentangan dengan demokrasi. Radikal itu kalau Orientasi kebangsaannya tidak sesuai degan NKRI dan demokrasi.

Berbeda dengan yang disampaikan oleh tokoh 212, Eggi Sudjana, mengatakan radikalisme dalam itu adalah aqidah. Menurutnya, radikal itu memiliki akar filosofi yang tidak sederhana, jangan semua digeneralisir dengan radikalisme.

“Jangan mengenaralisir urusan radikalisme karena ngga ada yang salah dengan radikalisme karena radikal dalam islam itu aqidah dan imannya kuat. Kalau ini meningkat di BUMN, ya bagus. Harusnya bersyukur. Karena orang radikal ini ngga mungkin korupsi karena dijamin oleh Allah, orang-orang yang taat shalat dapat mencegah kemungkaran,” kata Eggi dalam kegiatan Webinar LSPI.

(pam/uj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here