Hobi Bikin Wahyu Tekuni Profesi Peternak Dan Penjual Ikan Cupang

Wahyu Adam bersama cupang koleksinya. (Foto: Wahyu untuk urbanjabar.com)
DEWAWEB

Urbanjabar.com, Kabupaten Bekasi – Ikan cupang kembali menjadi tren yang meluas. Tak hanya bagi di kalangan tertentu, tapi kini meluas hingga menjalar masyarakat umum.

Tren ini tentu membuat banyak penjual ikan cupang bermunculan, kompetisi pun bak jamur di musim hujan. Selain itu, tentu harga cupang jenis tertentu makin meroket.

Namun, jauh sebelum tren mencuat, pengusaha ikan cupang asal Cibitung, Kabupaten Bekasi, ini telah merintis usahanya. Tepatnya pada awal 2019.

“Awalnya melihara karena hobi, sampai sekarang, jadi ngejalaninnya enjoy,” ucap Wahyu Adam, pemilik Riyanqi Betta, Selasa, 29 Desember 2020.

Dalam mengembakbiakkan cupang, ada tantangan sendiri yang dihadapi oleh Wahyu, seperti menjaga pH (tingkat keasaman).

“Tantangannya mulai mengurus, mulai dari kawinin, kita jadiin burayak, baru menetas 4 hari. Rentan mati aja. Harus jaga pH air. Senyaman mungkin itu anak ikan bisa tumbuh besar, pakannya tercukupi,” imbuh dia.

Pakan hidup pada musim penghujan seperti ini adalah hal yang cukup sulit didapat. Dia menyiasatinya dengan pelet, sementara untuk burayak dengan artemia atau udang air asin.

Selama pandemi, omzet yang dia dapat mencapai Rp150 ribu per hari. Sementara saat pandemi sempat menurun.

“Kalau setelah pandemi, ada peningkatan, karena orang banyak di rumah butuh kegiatan. Omzet bisa sampai Rp2 sampai 5 juta,” kata dia.

Sementara dia juga memasrkan cupangnya lewat daring. Dalam sebulan, bisa laku 10 sampai 25 ekor.

Riyanqi Betta beralamat di Perumahan Taman Wanasari, Blok J-5, nomor 3, RT 004 RW 04, Cibitung. Riyanqi Betta juga hadir di Instagram dan Facebook.

Jenis yang sedang mahal di pasaran, menurut dia, adalah blue rim, avatar, nemo copper, dan avatar copper.

“Yang paling murah relatif juga sih, tergantung jenis. Lihat kualitas, gak mesti blue rim. Coraknya balance apa enggak, clean, bagus, form bagus, genetik bagus. Itu yang membuat dia mahal, dilihat juga grade-nya,” ucap dia.

“Dari segi selain corak ada juga bukaan saat dia plaring (ngedok). Kan ada 3 sirip, di anal, dorsal, danekor. Dilihat bukaannya, rapat atau lebar, gak kendor untuk ekor, dan mainnya saat plaring. Itu penilaian juga,” sambung pria yang akrab disapa Waker ini.

Dia berharap ke depan cupang di Indonesia semakin maju dan semakin eksis, bahkan di kalangan mancanegara.

“Kita mesti bangga, breeder di Indonesia menciptakan tren baru. Orang kita terlalu membangga-banggakan ikan-ikan dari luar, padahal asalnya dari kita. Tetap maju, dan eksis. Maju terus cupang Indonesia,” demikian dia.

(bks)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here