Dinilai Keterlaluan, PHRI Turun Tangan Kawal Insiden Pengeroyokan Karyawan Batiqa Hotel

Antonius Heru, pegawai Hotel Batiqa yang menjadi korban pengeroyokan menunjukan laporan kepolisian kepada wartawan, Senin, 4 Januari 2020. (Foto: Kontributor Urbanjabar.com)
DEWAWEB

Urbanjabar.com,  Kabupaten Bekasi – Kasus pengeroyokan dua karyawan Hotel Batiqa Jababeka (4/1) membuat geram para pengusaha hotel. Pihaknya meminta untuk oknum pengeroyokan dihukum seberat-beratnya.

Tak, tanggung-tanggung, Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Pusat pun turun tangan mengawal insiden pengeroyokan ini yang terjadi di Kecamatan Cikarang Selatan,  Kabupaten Bekasi ini.

Ketua PHRI Jawa Barat, Herman Muchtar mengatakan sudah menugaskan bidang advokasi PHRI untuk menelusuri insiden tersebut.

“Untuk itu, kami sudah menugaskan Wakil Ketua Bidang Advokasi untuk menelusuri kejadian tersebut. Saya juga baru menerima laporannya ini. Mungkin tindaklanjutnya kedepan, kami juga akan menggandeng PHRI Pusat,” demikian dia.

Menurut Herman, peristiwa seperti ini tidak boleh terjadi. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong untuk diselesaikan secara hukum agar tidak menjadi preseden buruk dikemudian hari.

Para karyawan hotel di Kabupaten Bekasi pun kompak menggunakan tagar #savehotelier, “Bagaimana ini sudah keterlaluan, sangat arogan. Kami meminta pihak Kepolisian menangkap semua pelaku,”ujar salah satu karyawan hotel.

Sebelumnya diketahui, Antonius Heru, 38 tahun, dan Ahmad Fauzi, 30 tahun, menjadi korban atas peristiwa itu saat sedang bertugas malam, mereka babak belur dianiaya pelaku yang berjumlah tujuh orang.

Antonius sedikit kronologi kejadian itu kepada wartawan, Senin, 4 Januari 2020. Dia menjelaskan hotel sudah tidak menerima pesanan makanan karena sesuai instruksi pemerintah dalam kondisi pandemi covid-19, usaha tutup pada pukul 21.00 WIB. Saat itu pelaku datang pukul 02.00 WIB, sebagaimana tertera pada timestamp CCTV.

Usai mendapat penjelasan itu, korban malah dianiaya. Korban lain yang berusaha melerai, Ahmad Fauzi, jadi turut jadi korban pemukulan.

“Kami hanya mengikuti prosedur pemerintah terkait jam buka yang hanya dibatasi sampai jam sembilan malam. Namun para pelaku bukannya memahami malah menganiaya kami secara membabi buta,” ucap Antonius, salah satu karyawan yang menjadi korban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here