Lahan Permakaman Sengketa, Warga Desa Tamanrahayu Bingung 

Permakaman di wilayah RW 03 Desa Tamanrahayu yang menjadi sengketa. (Foto: Kontributor Urbanjabar.com)
DEWAWEB

Urbanjabar.com, Kabupaten Bekasi – Sengketa lahan berimbas kepada warga RW 02 dan RW 03 Desa Tamanrahayu, Kecamatan Setu. Pasalnya, mereka tak dapat memakamkan jenazah di tempat biasa karena pihak permakaman diklaim oleh ahli waris.

Salah seorang warga Desa Tamanrahayu yang tak ingin identitasnya disebutkan mengatakan warga RW 02 dan RW 03 pun tak dapat menggunakan lahan permakaman yang berada di RW 04 dan RW 06 karena tempatnya terbatas.

“Pemakaman gak boleh sama dia (ahli waris),” singkat dia saat ditemui wartawan.

Akhirnya dia pun terpaksa memakamkan jenazah itu di tempat lain yang jauh dari rumahnya.

Dia menjelaskan lahan itu tengah sengketa dengan pihak Desa Taman Rahayu dan pihak yang mengklaim sebagai ahli waris. Kasus itu terjadi pada 2018.

Menurut kabar yang beredar, di permakaman seluas 20.000 meter persegi itu akan menjadi rest area Tol Cimanggis-Cibitung.

“Kita ingin sebenarnya ini dibawa ke pengadilan, jadi jelas tanah siapa supaya gak sengketa lagi. Tapi pihak sana (desa) gak mauh, ahli waris juga gak mau,” ucap dia.

Dia sempat merunut cerita tentang sengketa permakaman itu dan ada kasus yang menyertainya sehingga menyeret nama kepala desa, mantan sekretaris desa, ketua BPD, kepala dusun, dan ketua RT setempat.

“Kan area permakaman kena rest area yang di kiri dan di kanan. Katanya supaya cepat, itu permakaman yang tanah TKD dibikin nama seseorang supaya proses pembayaran cepat,” kata dia.

Berdasarkan informasi yang kami terima, nilai tanah seluas 20.000 meter itu ditaksir Rp16 miliar.

“Tanah itu dibikin nama tukang bersih-bersih di makam. Dibikin surat pengakuan. Orangnya udah tua. Dia dibawa ke KUA untuk tanda tangan wakaf dengan alasan untuk kebaikan bersama,” ucapnya.

Singkat cerita, tanah itu berganti status dari TKD menjadi milik individu lalu berganti menjadi wakaf.

Tak lama, orang yang mengklaim sebagai ahli waris pemilik lahan permakaman itu dan menggugat kepala desa. Pihak yang mengklaim sebagai ahli waris lahan permakaman itu menunjukkan bukti berupa Buku C Tahun 1960 Noor: 956 Persil Nomor 56 yang terdaftar atas nama Ontel bin Teran.

Dia berharap warga ada solusi dalam waktu dekat. Warga setempat berharap dapat memakamkan jenazah di permakaman itu.

Hingga kini diketahui kasus yang dilaporkan pada 13 Desember 2018 itu belum selesai, kelima tersangka, termasuk kepala desa berinisial AW disangkakan melanggar Pasal 263 KUHP dengan dugaan pemalsuan surat atau dokumen.

Dikonfirmasi soal makam, Pemerintah Desa Taman Rahayu enggan memberikan tanggapan terkait persoalan permakaman.

“Untuk masalah pemakaman kita udah sepakat satu pintu bang. Abang bisa tanya ke Pa iyan. Dia salah satu tokoh di Taman Rahayu,”kata salah satu staf desa.

 

(bks)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here