“Rumah di Atas Pasir,” Pesan Toleransi untuk Indonesia

Jajaran Pengurusa GASSAK bersama Aliansi Bela Garuda usai launching Film Pendek "Rumah diatas Pasir," Sleman, Rabu (17/03)
DEWAWEB

SLEMAN, URBANJABAR.com – Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) resmi melaunching Film “Rumah di atas Pasir” yang digelar di Banyumili Resto, Sleman, Jogjakarta, Rabu (17/03).

Ketua Umum GASSAK Ahmad Fathoni menjelaskan bahwa ide pembuatan film ini berawal dari semangat dan kepedulian kita terhadap toleransi. Baik perbedaan agama, suku, ras dan perbedaan pendapat dan lain sebagainya.

“Dari rekan-rekan yang diwadahi oleh Aliansi Bela Garuda (ABG) dan beberapa elemen termasuk GASSAK yang masuk dalam salah satu elemennya ABG mempunyai visi – misi yang sama yang kemudian membuat sesuatu sosialisasi mengajak masyarakat melalui pesan dalam film,” terang Anton dalam wawancaranya.

Menurut Anton, film tersebut memuat pesan, salah satunya adalah membangun dan memupuk yang namanya toleransi. Karena menurut Anton, dalam tolerasi itu kalau kita tidak mendasarikannya nanti akan muncul yang namanya anarkis seperti radikalisme.

Radikalisme, lanjutnya, itu munculnya dari intoleran dalam beragama. “Sehingga GASSAK tergugah untuk menyempaikan pesan toleransi kepada masyarakat,” tandasnya.

Ia juga memberikan apresiasi yang tinggi atas peran besar TNI-Polri dalam menjaga Kamtibmas menjadi lebih kondusif lagi. Karena, menurutnya TNI-Polri adalah Garda terdepan menjaga ketertiban bangsa.

Selain itu, Anton juga menyarankan agar kita semua elemen mempunyai tanggungjawab menjaga toleransi. Hal ini, menurutnya, tidak bisa semata-mata kita serahkan pada guru atau orangtua untuk melakukan peran tanggungjawab dalam memupuk toleransi.

“Tanggungjawab kita bersama, kalau kita hanya menyerahkan kepada orangtua kepada guru semata nantinya kalau kita tidak saling akan mengingatkan nanti tidak akan muncul melestarikan budaya, melestarikan kearifan lokal, yang nantinya akan menjadi bentuk boomerang juga jika kita berkukuh pada kearifan lokal,” katanya lagi.

Menurut Anton, kita sebagai masyarakat yang ada di NKRI pastinya harus mengangkat kebhinnekaan ini. “Suatu kebanggan kita bangsa Indonesia adalah perbedaan suku perbedaan adat istiadat dan lain-lainnya,” ucapnya.

Salah satu adegan pembukaan Film Rumah di atas Pasir

Sementara, lanjutnya, mengenalkan isu toleransi itu harusnya sudah sejak dini, sejak anak-anak itu sudah memiliki rasa. Mulai dari usia ketika dia dapat mempunyai rasa, itu sudah harus kita tanamkan yang namanya toleransi.

“Perbedaan gender saja itu sudah ada toleransi di dalamnya. Tolerasi ibu dan anak, toleransi dengan teman-temannya, mulai dari hal kecil seperti itu sudah harus kita menanamkannya. Sehingga pendidikan toleransi pada anak itu sejak pendidikan dini. Tapi melalui film ini anak-anak haru didamping oleh orangtua, orang dewasa kan sudah bisa menilai seperti apa film ini bentuk toleransinya seperti apa,” kata Anton.

Dikatakannya, Anton, melalui silaturahmi ini GASSAK mengajak seluruh komponen masyarakat untuk selalu menghilangkan rasa curiga mencurigai antara satu dengan yang lain serta agar dapat hidup ditengah-tengah masyarakat.

“Hilangkan rasa mencurigai ditengah masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, budaya dan adat istiadat untuk selalu berdampingan dalam suatu keadaan yang rukun, dengan kerukunan kita dapat mengatasi semua permasalahan secara arif dan bijaksana,” pungkas Anton.

GASSAK percaya kerukunan dan toleransi antar sesama merupakan sumbangan besar umat dalam menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa, serta lajunya pembangunan. Untuk itu penekanan kerukunan hidup dan toleransi antar sesama hendaknya diletakkan pada upaya terbentuknya kerukunan dinamis, produktif, otentik yang bercorak toleransi positif dan berwawasan nasional.

“Perbedaan faham, pendapat dan pemikiran jangan membuat kita pecah tetapi hal itu merupakan rahmat bila kita dapat menggalinya, dan masalah keyakinan adalah persolan yang tidak dapat dipaksakan dan merupakan Hak Asasi Manusia yang paling asasi yang harus dihargai,” sambungnya.

Untuk itu, GASSAK akan selalu mensukseskan dan mendukung pembangunan yang akan datang serta dalam rangka pro aktif dengan TNI POLRI dalam menjaga KAMTIBMAS NKRI untuk selalu dalam suasana kondusif, aman dan terkendali.

“Dengan mengucap “Toleransi Harga Mati NKRI” maka pemutaran Film Pendek dengan judul “Rumah Di Atas Pasir” kami persembahkan,” tutup Anton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here