Rest In Power, Obaida Akram

Obaida Akram
Obaida Akram. (Foto: middleeasteye.net)

Urbanjabar.com – Lagi, pasukan militer Israel membunuh seorang anak lelaki di Tepi Barat Selatan, pada 17 Mei 2021. Namanya Obaida Akram Abdurahman Jawabra.

Lelaki berusia 17 tahun asal Palestina ini dinyatakan meninggal pada saat sesampainya di rumah sakit setelah ditembak oleh pasukan militer Israel.

Obaida Akram yang sedang melakukan demonstrasi di kamp pengungsi Al-Arroub mengalami luka tembak di dadanya.

Pada saat perotolongan ambulans datang untuk menjemput Obaida, ambulans tersebut dihadang oleh pasukan Israel sehingga ia harus diangkut oleh mobil pribadi menuju rumah sakit di Kota Beit Fajjar dimana ia dinyatakan meninggal.

Sayangnya bulan depan adalah hari kelulusan Obaida dari kursus memasak kejuruan di Akademi Komunitas Talitha Kumi yang terletak di kota Beit Jala, Tepi Barat, menurut informasi yang dikumpulkan oleh DCIP (Defense for Children Internasional Palestine).

Sebelumnya dua tahun lalu kisah Obaida dijadikan film, film karya Matthew Cassel ini diproduksi oleh DCIP, berjudul OBAIDA.

Dalam kisahnya ia menceritakan bagaimana anak-anak Palestina diperlakukan oleh pasukan militer Israel.

Pada saat anak-anak di luar sana menikmati kegiatan mereka mulai dari bersekolah, bermain, mencoba hal baru atau pun fokus terhadap cita-cita masing-masing, hal ini berbeda dengan anak-anak Palestina rasakan, termasuk Obaida.

Dalam film tersebut Obaida berkata “Saya mulai berpikir, mengapa kita begitu berbeda dengan anak-anak lain di dunia? Mengapa kita ditahan ketika kita masih muda dan dibuat menderita? Sementara yang lain dapat bersenang-senang dengan berolahraga dan dapat banyak peluang yang tidak kita miliki. Mengapa demikian dan mengapa kita seperti ini?”

Pada saat usianya menginjak 14 tahun ia ditahan dan dipenjara oleh pasuka Israel, tentu saja ini menjadi pengalaman pahit bagi Obaida.

Setahun setelah kejadian itu berlangsung ia kembali ditahan dan dipenjara oleh pasukan Israel untuk kedua kalinya.

Seperti mayoritas anak-anak Palestina yang ditangkap oleh pasukan Israel dari Tepi Barat yang diduduki, Obaida dituduh melakukan pelemparan batu.

Namun, investigasi dan bukti yang dikumpulkan oleh DCIP secara teratur menunjukkan bahwa pasukan Israel menggunakan kekuatan fisik terhadap anak-anak Palestina dalam keadaan yang mungkin dapat terjadi pembunuhan di luar hukum atau disengaja.

Israel menahan dan menuntut antara 500 dan 700 anak Palestina di pengadilan militer setiap tahun. Hampir tiga dari empat anak Palestina yang ditahan oleh pasukan Israel mengalami beberapa bentuk kekerasan fisik, menurut dokumentasi yang dikumpulkan oleh DCIP.

Sejak tahun 1967 pun, Israel telah menjalankan dua sistem hukum terpisah di wilayah yang sama. Di Tepi Barat yang diduduki, pemukim Israel tunduk pada sistem hukum sipil dan kriminal sedangkan Palestina hidup di bawah hukum militer. Tidak ada anak Israel yang melakukan kontak dengan pengadilan militer.

Entah sampai kapan kekejaman ini berlangsung, dengan harapan penuh, anak-anak Palestina dapat pergi kemana pun mereka mau tanpa rasa takut akan hidup mereka yang terancam.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *