Diklaim Orang, Warga Tamanrahayu Dilarang Keras Makamkan di TPU Mbah Wardi

Diklaim Orang, Warga Tamanrahayu Dilarang Keras Makamkan di TPU Mbah Wardi
Misran Sasmita, warga Desa Tamanrahayu, Kecamatan Setu, yang dilarang oleh pengklaim lahan TPU Mbah Wardi pada Mei 2021. (Foto: Kontributor Urbanjabar.com)

Urbanjabar.com, Kabupaten Bekasi – Permasalahan sosial di Desa Tamanrahayu, Kecamatan Setu, membuat warga kesusahan dan kecewa. Mereka tak dapat mengebumikan mendiang keluarga mereka di TPU Mbah Wardi yang terletak di Kampung Serang, RT 003 RW 03.

Salah satu warga yang merasa kecewa berat adalah Misran Sasmita, warga RT 003 RW 03, yang pada 2 Mei 2021 tak dapat memakamkan mendiang ibundanya di TPU Mbah Wardi.

Padahal, kata Misran, sebelum mengembuskan nafas terakhir, sang ibu berpesan ingin dimakamkan di TPU tersebut. Akhirnya, jenazah ibu Misran dimakamkan di TPU Ribung yang berbatasan dengan Cileungsi, Bogor.

“Ibu saya meninggal jam 9 malam. Ibu saya minta dikuburkan di sini (TPU Mbah Wardi). Saya bicara yang jaga di sini, Bapak Unan (ayah pelapor atas nama Gunawan, Ed) minta izin, tapi kata dia gak bisa,” jelas Misran saat ditemui di Tamanrahayu, Rabu, 2 Juni 2021.

Dia pun sempat mempertanyakan kepada Unan yang diketahui merupakan anak dari orang yang mengklaim tanah permakaman itu sebagai miliknya.

“Saya tanya kenapa gak bisa? Dia bilang gak bisa aja. Terus siapa yang larang? Saya coba hubungin orang yang larang. Itu kan sudah jelas plang permakaman. Itu kenapa gak bisa? Dari dia gak ada jawaban yang jelas,” katanya.

Misran yang sudah 20 tahun tinggal di Tamanrahayu itu mengaku tidak habis pikir atas masalah itu, padahal dulu tak ada seorang pun yang melarang memakamkan jenazah di tempat itu.

Diklaim Orang, Warga Tamanrahayu Dilarang Keras Makamkan di TPU Mbah Wardi (2)
TPU Mbah Wardi yang terletak di Kampung Serang, RT 003 RW 3, Desa Tamanrahayu, Kecamatan Setu. (Foto: Kontributor Urbanjabar.com)

“Itu semenjak ada tol jadi begitu. Saya merasa kecewa tidak bisa memakamkan ibu saya di situ,” kata dia.

“Harapan saya sebagai warga, kalau itu permakaman ya jadikan permakaman umum. Kalau tempat sosial, jadikan tempat sosial. jangan ada yang melarang-larang lagi,” sambung dia.

Kasus yang dialami Misran bukan kali pertama, menurut pengakuan sejumlah warga, pelarangan itu sudah berlangsung sejak Januari 2020.

Orang yang hendak memakamkan di tempat itu selalu mendapat penjegalan dari orang yang mengklaim sebagai ahli waris dari pemilik lahan permakaman itu.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa mereka memakamkan jenazah di permakaman lain yang terletak di seberang tol ataupun di tempat lain di desa itu. (aoi)

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *