Penentang Izin Tambang Emas di Sangihe Temui Ajal di Pesawat

  • Share
penentang izin tambang emas
Mendiang Wabup Kepulauan Sangihe. (Foto: Kompas.com)

Urbanjabar.com – Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong dinyatakan meninggal dalam penerbangan Lion Air JT-740 rute Denpasar-Makassar pada hari Rabu, 8 Juni 2021. Helmud dikenal sebagai wakil bupati penentang izin tambang emas.

Berdasarkan keterangan CNN, mula-mula Helmud Hontong dan ajudannya melakukan perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali menuju Bandara Sam Ratulangi Manado, kemudian transit di Bandara Internasional Hasanuddin, Maros.

Pukul 15.08 WITA Wakil Bupati Helmud Hontong lepas landas lalu dijadwalkan mendarat pada pukul 16.08 WITA di Bandara Sultan Hasanuddin

Sekitar 30 menit di dalam pesawat pukul 15.40 WITA, Helmud terbatuk dan mengeluarkan darah, tak berselang lama ia tak sadarkan diri.

Kemudian, awak kabin segera menghubungi pihak petugas lalu lintas udara dan petugas darat untuk menyediakan ambulans.

Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan penanganan terhadap penumpang atas nama Helmud Hontong sudah sesuai prosedur.

Setelah mendapatkan informasi detail dan pengamanan, pimpinan awak kabin melakukan pengumuman, untuk menanyakan apakah ada yang berprofesi dokter atau tenaga medis di dalam penerbangan.

“Dalam penerbangan ada tenaga medis yang dibuktikan dengan tanda identitas secara resmi,” ungkap Danang dalam keterangan tertulisnya.

Segera Helmud dibersihkan dan menyandarkan kursi serta memasangkan masker oksigen. Awak kabin kemudian memberikan tabung oksigen portabel dan melonggarkan pakaiannya.

Helmud sempat mendapat penanganan resusitasi jantung paru dan bantuan pernapasan di dalam pesawat. Namun tak mendapatkan respon.

Keluhan Helmud sebelum meninggal

Berdasarkan keterangan Harmen Kontu, Ajudan Helmud, setelah lepas landas di bandara, Helmud Hontong mengatakan tenggorokannya gatal dan terasa sakit, kemudian ia meminta air minum.

Namun saat terbatuk, tiba-tiba darah keluar dari mulut dan hidungnya dan tak sadarkan diri. Air yang diminum pun adalah air yang dibawa Helmud pada saat di daratan.

Namun menurut sejumlah aktivis, salah satunya Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menilai bahwa adanya kejanggalan dalam meninggalnya wakil bupati tersebut.

Helmud meninggal ketika ia sedang sibuk memproses tolak izin tambang emas di wilayahnya

Jabes Gaghana selaku Bupati Sangihe mengatakan, sejak Februari 2021 Helmud sudah bolak-balik mengurus penolakan tambang emas tersebut, dan sudah mengirimkan surat penolakan ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Mengapa menentang tambang emas?

UU No. 1 tahun 2014 disebutkan pulau Sangihe dilarang adanya proyek penambangan karena memiliki dampak yang buruk untuk pulau yang berukuran kecil tersebut, diantaranya :

  • Pencemaran Air
  • Pencemaran Udara
  • Pencemaran Tanah
  • Mengancam Nyawa Masyarakat
  • Banyak hewan langka
  • Merusak ekosistem
  • Menggangu masyarakat disana

Meski telah menolak, Jabes Ghagana menuturkan, Pemkab Kepulauan Sangihe tidak dapat melakukan hal serupa.

Karena jika izin tambang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah terbit, pihaknya harus mengikuti ketentuan tersebut. Jabes menjelaskan bahwa itu adalah etika pemerintahan sehingga pihaknya tidak dapat melawan keputusan tersebut.

Menurut Jabes, proses izin PT TMS ini sudah berproses sejak 1997, sementara izin resmi untuk mengeksploitasi lahan itu baru terbit pada tahun 2021.

Ia mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya pun tidak pernah menandatangani satupun surat izin mengenai tambang di kepulauan tersebut.

Oh Sangihe

Manu Niu
Burung endemik Sangihe, manu niu. (Foto: kompas.com)

Kabupaten ini berasal dari perluasan Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Ibu kota kabupaten ini adalah Tahuna.

Kabupaten ini memiliki luas wilayah 736,98 km² dan memliki penduduk sebanyak 139.262 jiwa. Wilayah kepulauan itu juga dihuni berbagai macam hewan, anggrek, kupu-kupu, serta biota bawah laut.

Dilansir dari Kompas.com, terdapat pula burung langka seriwang sangihe, atau yang disebut masyarakat lokal sebagai manu niu. Burung itu hanya ada di Pulau Sangihe.

Burung endemik ini sempat dianggap punah selama seratus tahun, sampai sekitar 20 tahun lalu, ketika mereka terlihat kembali.

Kendati demikian, burung berukuran sekitar 18 sentimeter, berwarna kebiruan dan pemakan serangga ini jumlahnya kini kritis dan semakin terancam akibat rencana eksploitasi emas yang berpotensi menghancurkan hutan tempat mereka tinggal.

Jika itu terjadi, tak hanya manu’ niu yang terancam punah. Masih ada sembilan jenis burung endemik lainnya, empat berstatus kritis dan lima lainnya rentan, yang hidup di wilayah hutan lindung Gunung Sahendaruman, Kepulauan Sangihe, yang juga turut terancam.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *